My Journal

Senin, Mei 07, 2007

Tips menghadapi autorun Flash Disk

Kebanyakan virus yang beredar akan membuat file Autorun.inf/Desktop.ini/Folder.htt disetiap Drive termasuk di Disket/Flash Disk dengan tujuan agar virus tersebut dapat aktif secara otomatis setiap kali user akses ke Drive tersebut.
Berikut tips yang dapat dilakukan agar skrip tersebut tidak akan dijalankan setiap kali user akses ke Drive tersebut yakni:


Klik [Start]

Klik tombol [Run]

Pada dialog box “Run” ketik “GPEDIT.MSC” kemudian tekan tombol “enter”

Pada layar “Group Policy” klik “Administrative Templates” pada menu “User Configuration”

Kemudian klik “System”

Pada menu “system” tersebut klik kanan “Turn off Autoplay” kemudian pilih “Properties”

Pada layar “Turn off Autoplay properties”

Klik tabulasi “Setting”

Pilih option “Enable”

Pada menu “Turn off Autoplay on” pilih “All Drives”

Klik Tombol “Apply”

Klik Tombol “OK”

Kemudian tutup layar “Group Policy”

Jumat, Desember 15, 2006

Rahasia Diet, Makan Pelan

Untuk menikmati makanan, banyak orang berkomentar, makanlah pelan-pelan. Selama puluhan tahun saran tersebut tak pernah dibuktikan secara ilmiah, tapi baru-baru ini diperoleh bukti-bukti yang membenarkan klaim tersebut.


"Ada hipotesis pada tahun 1972 yang menyatakan bahwa makan pelan-pelan membuat tubuh punya banyak waktu untuk menikmatinya dan membuat kita makan sedikit," kata Kathleen Melanson, peneliti dari Universitas Rhode Island, AS. Sejak saat itulah, hipotesis tersebut tersebar menjadi pendapat umum dan diyakini banyak orang.
Tapi, belum ada satu pun penelitian lain yang membuktikannya. Untuk itu, Melanson melakukan penelitian terhadap 30 wanita muda. Masing-masing ditawari makanan pasta dan dipersilakan makan sepuasnya, sebanyak mungkin mereka mau.
Ketika diminta makan dengan cepat dalam 9 menit saja, rata-rata setiap orang makan 646 kalori. Tapi, saat diberi kelonggaran waktu, mereka makan antara 15 hingga 20 kali lebih lama. Dalam 29 menit, kalori yang dikonsumsi juga hanya 579 kalori.
"Sinyal kepuasan jelas butuh waktu untuk dibangkitkan," kata Melanson. Tidak hanya mengonsumsi kalori yang lebih sedikit, mereka juga puas setelah makan hingga sejam kemudian.
Ini menunjukkan bahwa makan pelan-pelan benar-benar bermanfaat bagi tubuh. Penelitian ini dilaporkan dalam pertemuan North American Association for the Study of Obesity pada bulan Oktober.Sumber: LiveScience.com

Rabu, Desember 13, 2006

Musim Panas 2040, Tidak Ada Es di Perairan Kutub Utara
Wilayah Kutub Utara bakal kehilangan seluruh daratan esnya mulai musim panas tahun 2040 jika pemanasan global tak dapat ditekan. Kemungkinan ini jauh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Bulan lalu, perairan yang dilapisi es di Kutub Utara hanya seluas dua juta kilometer persegi atau seluas Alaska. Ini di bawah luas rata-rata perairan beku di puncak musim panas dan tercatat dalam urutan keempat terbawah selama 29 tahun pengamatan melalui satelit.
Dengan membuat simulasi model iklim global, para peneliti Universitas Washington dan Universitas McGill bisa menganalisis pengaruh pemanasan global terhadap lautan beku di sekitar kutub. Hasil perhitungan yang dimuat dalam Geophysical Research Letters edisi 12 Desember menunjukkan, jika tingkat pelepasan emisi gas-gas rumah kaca tetap setinggi sekarang, es nyaris tak ditemukan lagi di wilayah Kutub Utara pada September 2040.
Pada sebuah simulasi diperlihatkan bahwa luas daratan es pada bulan September telah mengalami penurunan dari 5,9 juta kilometer persegi menjadi 1,9 kilometer persegi hanya dalam waktu sepuluh tahun. Pada puncak musim panas tahun 2040, es hanya ditemukan di sebagian kecil wilayah Greenland dan Kanada serta tidak ada es di perairan Kutub Utara.
Tebal lapisan es di permukaan laut saat itu juga hanya sekitar 0,9 meter. Sebagai pembanding, tebal lapisan es di permukaan perairan Kutub Utara saat puncak musim panas sekarang sekitar 3,6 meter.
Model iklim yang dibuat sebelumnya memprediksi hilangnya es di Kutub Utara baru akan terjadi pada 2060. Penelitian lainnya juga menghasilkan gambaran bahwa es hanya akan ditemui keberadaannya di Kutub Utara hingga tahun 2105 karena pemanasan global.
Emisi gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global sehingga es di Kutub Utara makin berkurang. Karena es mencair, perairan lebih luas dan menyerap panas lebih banyak. Hal inilah yang makin mempercepat pencairan es di perairan Kutub Utara.
"Perubahan tersebut benar-benar sangat cepat. Kita telah kehilangan banyak daratan es, namun selama beberapa dekade ke depan es mencair jauh lebih cepat," kata Marika Holland, salah satu peneliti dari National Center for Atmospheric Research (NCAR) Universitas Washington yang mempresentasikan temuannya pada Pertemuan Perhimpunan Geofisika Amerika.
Meski demikian, Kutub Utara masih punya peluang bertahan dari kondisi seburuk itu. Simulasi dengan tingkat emisi yang lebih rendah hanya menyebabkan proses pencairan yang lebih lambat. "Masyarakat masih bisa meminimalisasi pengaruh pada es perairan Kutub Utara," ujar Holland.Sumber: LiveScience.com